Skip to main content

ikuti kami di

Cerita hantu kali ini ditulis oleh akun twitter @goinchat yang mengisahkan pengalamannya ketika darmawisata sekolah ke Bali. Dia berbagi cerita tentang pengalamannya bertemu hantu di sebuah hotel yang ada di Bali.

Meski tidak sampai mengganggu, pengalaman seramnya itu sudah cukup membuat merinding bulu kuduk siapa saja yang membaca cerita ini. Seperti biasa kami menulis ulang cerita ini dengan beberapa perubahan tanpa mengubah alur dan jalan cerita. Selamat membaca.

Kejadiannya pas gue masih kelas 3 SMA kelas 3. Saat itu pertama kalinya gue wisata ke Bali. Sesampainya di Bali, gue langsung didrop ke hotel. Malem itu acara bebas. Gue sekamar 4 orang anggap aja sama si A, B, C, dan D.

Bukannya istirahat, temen-temen sekamar gue malah ngajak ke HardRock. Bukannya nolak, gue malah girang. He he he.

Beres rembukan, kita memutuskan untuk mandi dulu sebelom berangkat ke HardRock. Seperti biasa, gue kebagian giliran terakhir untuk mandi. Nah, sambil nungguin, gue memutuskan buat jalan-jalan-jalan dulu mengelilingi hotel.

"Gue mau jalan-jalan nih. Ada yang mau ikut nggak?" tanya gue ke anak-anak yang ada di kamar.

"Nggak, ah. Lo aja. Jangan lupa bawa hape, ya. Nanti gue telepon kalau kamar mandi sudah kosong."

Gue pun mengangguk. Akhirnya gue bisa jalan-jalan santai sendiri.

Belum jauh gue jalan dari kamar, hp gue berbunyi. Nomornya nggak gue kenal, tapi tetep gue angkat. Terdengar suara yang mirip suara sama si C.

"Halo, Cha. Lagi dimana?"

"Ini masih di dekat kamar. Kenapa?"

"Mmm... Tolong bilangin ke lobby dong. Air panas di kamar mandi nggak keluar."

"Iya... Iya... Nanti gue mampir ke lobby." jawab gue singkat.

Duh, ada-ada aja. Lobby dimana pula. Gue nggak tahu dimana letak lobby. Soalnya tadi langsung digiring ke kamar sama roomboy-nya.

Pas gue lagi bingung, gue liat ada roomboy lagi bawa teko. Gue tanyalah dia. "Malem... Permisi... Mau tanya, lobby di sebelah mana ya, Bli?"

"Ohh... Itu lobby di sana Mbak" jawabnya singkat.

Gue nggak lupa bilang terima kasih lalu menuju ke arah yang tadi ditunjukin sama roomboy. Sambil jalan, gue memperhatikan kalau ternyata hotelnya nggak bergaya 'Bali-Bali' amat. Tapi sepertinya hotel ini sudah cukup tua. Komplek bangunan hotelnya berbentuk "U" Dan lobby hotel ada di bangunan tersendiri yang letaknya di tengah2 "U" itu.

Buru-buru gue masuk ke lobby yang dimaksud. Di dalam lobby terlihat sepi. Nggak ada orang, meja resepsionisnya kosong. Gue celingukan mencari tanda-tanda kehidupan. Lah, kok nggak ada orang. Aneh amat ini hotel.

Gue sempat meelihat ada kolam renang di belakang lobby itu. Penerangannya agak kurang, cenderung remang-remang. Tapi dari lobby tempat gue berdiri, airnya kelihatan biru banget.

Pas gue lagi terpesona sama birunya air kolam, seorang petugas datang dari ruangan di balik meja resepsionis. Langsung gue bilang sama bapak itu bahwa aar panas di kamar gue nggak keluar. Akhirnya beliau menyuruh salah seorang anak buahnya untuk memeriksa ke kamar.

Tertarik sama birunya air kolam, gue memutuskan untuk mendekat ke sana. Kolamnya nggak terlalu besar, tapi kelihatannya sih lumayan dalam.

Walaupun sudah malam, udara di Bali terasa gerah. Tidak seperti Bandung yang dingin. Air kolam yang biru kelihatannya adem gitu. Gue mendekat dengan niat mau mencelupkan kaki ke kolam.

Lampu di pinggir kolam berkedip. Gue agak kaget, tapi nggak ada apa-apa. Gue melanjutkan jalan ke arah kolam. Tiba-tiba ada suara dari belakang gue. "Sedang apa? Mal-malam jangan ke kolam, Kak." Gue kaget dan refleks menengok ke arah datangnya suara itu.

Ada seorang anak cewek usianya sekitar 14 tahun. Rambutnya sebahu, wajahnya pucat, agak kebiruan. Perasaan gue agak nggak enak, tapi anak itu keliatannya nggak 'berbahaya' jadi gue berusaha bersikap biasa aja.

"Ah, mungkin gara-gara lampunya nih. Karena remang-remang, jadi aneh gini kelihatannya." batin gue.

"Jangan, Kak.. Di sini ada hantunya.."

Degg! Otomatis gue beringsut menjauh dari tepi kolam. Kalimatnya itu diucapkan dengan muka datar. Gue cuma bisa ngomong "Oh..?"

Jantung gue mulai berdegup kencang. Nggak lama dia melanjutkan omongannya. "Iya, dulu di sini ada yang meninggal. Tenggelam."

"Tadinya berenang-berenang biasa, Kak. Tapi ada yang narik kakinya." ujarnya pelan.

"Sudah minta tolong, tapi disangka bercanda. Dikira pura-pura tenggelam, Kak."

"......"

Gue terdiam sekitar 5 detik. Gue cuma bertatap-tatapan aja sama anak cewek itu.

Tiba-tiba dia bilang, "Makanya Kakak jangan ke sini. Jangan main-main di sini."

Jeda sebentar, lalu dia lanjutkan kalimat itu, "Di kolam ada hantunya, Kak." Seketika wajahnya berubah sedih.

Gue bergidik dan merinding. Pengen membantu, tapi nggak berani. Pengen cuekin, tapi kasihan. Akhirnya gue cuma diam.

Tiba-tiba gue mendengar ada yang teriak memanggil gue. "CHA! CHA!"

Saat gue menoleh ke arah suara yang memanggil gue, di sudut mata gue lihat anak cewek itu nyemplung ke kolam. Otomatis gue menengok kembali ke tempat anak cewek itu tadi berdiri. Tapi dia sudah nggak ada di situ.

Di kolam pun nggak ada apa-apa. Airnya nggak beriak sama sekali, masih biru bening. Seakan tidak ada yang menyemplung sebelumnya.

Rupanya yang datang itu si A, temen sekamar gue. Dia protes kenapa gue nggak bisa ditelpon. Gue tertegun melihat hape yang dari tadi gue pegang. Nggak ada panggilan sama sekali.

"Yuk, cepetan. Susah bener nelpon lo."

"Iya... Iya, sorry. Kayaknya nggak ada sinyal deh."

Gue nggak mau ngebahas soal anak cewek yang tadi. Pertama, karena serem banget. Kedua, karena kalau diceritakan ke yang lain, acara malam ini bisa bubar.

Gue berusaha cari topik lainnya, "Udah beres mandinya? Air panasnya sudah bisa keluar nggak?"

Temen gue berhenti trus dia nanya, "Kok lo tau tadi air panasnya nggak jalan?"

"Laaahh... Kan tadi lo nelpon minta gue manggil room service ke lobby."

Dia langsung menggandeng tangan gue, trus ngajak jalan cepet balik ke kamar. Sambil jalan dia bilang, "Telpon di kamar kita mati. Nggak bisa dipake. Nelpon lo pake HP juga nggak bisa."

"Ja...jadi siapa yang nelpon gue?!?"

Si A diam, trus menggeleng. "Gue nggak tahu. Tapi yang jelas, dari kamar nggak ada yang bisa menghubungi lo. Makanya gue sampe keluar nyariin."

"Terus lo tadi ngobrol sama siapa sih? Lo lagi ngapain di pinggir kolam?"

Jedarr!!! Gue shock!

"Ha...hah? Maksud lo? Sendirian gimana?"

"Ya sendirian. Gue panggil nggak nengok, kaya lagi ngobrol gitu. Tapi pas gue deketin ternyata lo sendirian. Lo ngobrol sama siapa?"

Astaga. Gue langsung merinding parah ini. Gue menelan ludah dan geleng-geleng, "Nggak, nggak sama siapa-siapa. Yuk, cepetan ke kamar." Gantian gue yang pengen cepet sampai ke kamar.

Di kamar, gue diem aja. Masih terbayang sosok cewek berwajah pucat kebiruan dengan rambut sebahu itu. Beres mandi, sambil menyisir rambut gue deketin si A. Gue tanya lagi, "Beneran tadi nggak ada yang nelpon gue?"

Dia geleng-geleng dan malah balik nanya, "Serius lo tahu darimana kalau airnya mati? Serius lo ada yang nelpon?"

Gue ngangguk mantep. "Serius.. Suara cewe.."

Gue merinding lagi. Sepintas teringat lagi cewek di kolam renang tadi. Jangan-jangan...

Pikiran gue teralih karena tiba-tiba si A bertanya ke yang lain, "Tadi ada yang nelpon si Cha?" Temen gue lainnya si B, C, dan D satu per satu menggeleng.

"Kenapa emangnya, Cha? Eh, tapi aneh ya tiba-tiba room servicenya datang." sahut si C polos.

Gue kehabisan kata-kata. Akhirnya gue cuman bilang, "Nggak ada apa-apa... Nggak ada apa-apa..."

Akhirnya si A inisiatif mengajak anak-anak melanjutkan rencana berangkat ke HardRock. Baru pulang setelah hampir subuh. Balik ke hotel langsung disambut sekelompok guru yang siap ngomelin kita karena pulang terlalu pagi.

Karena sudah pagi, akhirnya gue nggak tidur. Takut. Untungnya cuma 1 malam di hotel itu, besok paginya kita check out pindah hotel.

Waktu mau pulang, gue sempet lihat cewek itu di pinggir lobby. Gue nggak berani nyamperin. Cuma mengangguk tanda pamit, lalu say goodbye. Kata orang, kalau nggak dipamitin, malah resiko 'dia' ngikut. Lagian gue pikir nggak ada salahnya pamit, lebih sopan. Jadi gue pamit.

Untungnya nggak ada yang aneh-aneh di hotel baru. Dan gue pun selamat sampai bali ke rumah lagi. Gue baru berani cerita ke temen-temen setelah sampai Bandung, dan mereka terbengong-bengong.

"Pantesan ada room service yang datang. Rupanya lo yang nyuruh..." Persoalan room service yang tiba-tiba datang terjawab sudah.

Tapi tentang siapa yang menelpon gue, sampai hari ini gue nggak tahu dan nggak berniat cari tahu. Sama masih ada satu pertanyaan yang nggak mau gue cari jawabannya. Hantu yang diceritain cewek di kolam renang itu siapa?

Karena dari feeling gue, cewek itu nggak jahat. Apa justru dia yang jadi 'korban' dari keisengan sang 'penunggu' kolam?

Gue juga nggak mau cari tahu soal itu. Tapi sekali lagi, pelajaran berharga adalah kalau sudah berdoa, nggak ada yang bisa menyaingi kekuasaan Tuhan. Terima kasih buat yang sudah menyimak. Maaf kalau ada salah-salah kata. Gue pamit.

Demikian cerita seram mengenai Gadis Kecil dan Penunggu Kolam Renang. Memang masih banyak misteri yang melingkupi cerita ini seperti siapakah sebenarnya sosok gadis muda di pinggir kolam itu? Atau siapa sebenarnya yang menelpon?

Dari pandangan kami, sosok gadis di pinggir kolam itu adalah korban sebenarnya dari cerita yang dia ungkapkan sendiri. Dia berusaha memberikan 'peringatan' agar pengalaman buruk yang menimpanya tidak terjadi pada orang lain.

Pada beberapa bangunan tua memang eksistensi dari makhluk halus dan interaksi dengan dunia gaib memang cukup kental. Itulah kenapa kita harus selalu waspada dan bersikap hati-hati dimana saja kita berada. Karena bisa saja kita masuk ke wilayah 'mereka' dan tanpa sengaja membuat mereka marah. Wallahu 'alam.

Baca Juga Artikel :