Skip to main content

ikuti kami di

Tulisan ini melanjutkan cerita sebelumnya yakni "Pengalaman Menyeramkan Berkemah di Mekarsari Bag.1" dimana sang penulis dibawa pergi dengan mobil untuk diungsikan ke tempat lain yang dipandang lebih aman dan kondusif.

Cerita ini masih cukup panjang. Dan sama seperti cerita sebelumnya, kami menulis ulang cerita ini dengan melakukan beberapa perubahan seperlunya tanpa mengubah alur atau jalan cerita. Di akhir cerita kami akan memberikan pandangan dan hikmah yang bisa diambil dari cerita ini. Selamat membaca.

Gue sama temen-temen dipindahkan ke gedung lain karena di gedung sebelumnya (gue nggak tahu ini gedung apa) bukannya membaik,gue malah semakin memburuk. Pas itu gue ingat di depannya banyak pepohonan gede dan diantaranya ada jin yang menunggu gue.

Kenapa gue bilang jin? Karena yang gue tahu, jin itu nggak berwujud tetap kayak setan seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Nah kalau jin bisa berubah bentuk sesuai 'keinginan'.

Jin ini sewaktu memunculkan diri di hadapan gue dia berbentuk mirip pin bowling. Tinggi menjulang berdiri di antara pepohonan. Dia gendut, matanya 1 tapi nggak seperti mata manusia dengan warna yang merah terang.

Dia mengamati gue di balik pepohonan itu. Pas gue digendong masuk ke gedung, gue benar-benar mau nangis karena takut setengah mati. Bukan cuma sama si pin bowling ini doang, tapi ada banyak berderet gitu. Gua sudah pasrah aja kalau kalo nggak selamat.

Masuk ke gedung gue malah ngerasain hawa yang benar-benar dingin. Sampai akhirnya gue diturunkan di sofa panjang baru berani melek. Di situ gue nangis, nggak tahan lagi dengan ketakutan ini.

Temen gue yang teriak-teriak itu juga ada di situ sama gue. Tapi gue nggak berdua, ada 2 lagi yang nemenin. Dua orang ini sahabat gue, 1 cewek dan 1 cowok (pacarnya yang teriak-teriak).

Nah di situ gue tiduran sambil diajak ngomong sama mereka. Sewaktu gue minum dan mau narik napas gue nengok ke kanan, ternyata ada jendela besar yang langsung mengarah ke belakang gedung. Di sana kelihatan jelas banyak pohon.

Bukan cuma pohon tapi juga setan yang berdiri di sana. Gue awalnya nggak sadar, sampai ada yang melayang lalu memanggil nama gue berulang kali. Di situlah gue mulai nangis dan gemetar lagi.

Mbak-mbak yang nggak tahu siapa namanya berusaha menenangkan gue, tapi gue nggak bisa. Gue minta dia tutup hordennya. Ditanya kenapa, gue jawab di situ ada banyak yang muncul dan mereka manggilin gue.

Gue nangis sesenggukan. Temen gue yang cowok nggak tega akhirnya dia ikut nyuruh si mbak buat nutup hordennya. Nah setelah ditutup sama satpam yang disuruh si mbak, gue agak tenang karena nggak lihat mereka.

Selama beberapa menit gue diajak ngobrol terus sama mereka. Gue sudah nggak setakut sebelumnya. Sudah bisa diajak bercanda dan tersenyum.

Gue juga tetap baca doa meskipun terbata-bata karena bagaimanapun juga di tubuh masih banyak yang berusaha menguasai dan gue nggak tahu bagaimana cara mengeluarkannya.

Sebelum gue agak baikan, si mbaknya ini ngelus-elus rambut gue biar gue tenang. Dia ajak gue ngobrol, bilang kalau gue sudah aman sekarang.

Gue cuma diem sambil fokus supaya nggak bengong lagi. Pas lagi begitu tiba-tiba gue denger satpamnya ditelepon, dia panik.

Si satpam ini kayaknya ditelpon sama orang yang ada di aula. Gue nggak tahu apa isi percakapannya, tapi yang pasti dia panik banget dan ngomong, "Apa? Pintu atas kebuka?".

Terus mbak-mbak yang tadinya lagi ngelusin gue langsung nengok, dia ngelihatin si satpam ini. Si mbaknya nanya ada apa, satpamnya bilang kalau pintu di lantai atas aula itu terbuka padahal sudah digembok atau dikunci dan nggak ada satupun yang buka.

Denger omongannya gue jadi keinget sama 3 orang Chinese yang gue lihat waktu masih di aula, gue jadi mikir. Oh iya gue nggak tahu mereka Chinese atau bukan soalnya mata mereka agak sipit dan putih banget.

Setelah nguping dan kuatin diri, gue coba buat ngomong tentang 3 makhluk yang tadi gue lihat itu. Terus muka mereka langsung berubah kayak panik. Si satpam ini langsung pergi keluar nggak tahu kemana ya.

Si mbaknya masih duduk manis di samping gue. Gue nitip pesan ke mbaknya buat bilang ke orang yang lagi jagain temen-temen gue di aula, untuk jangan taruh mereka di dekat ATM karena di sana banyak makhluk halus. Meskipun dibacakan Al Qur'an tetap aja nggak akan mempan, malah nanti semakin banyak yang kesurupan. Tapi mbaknya bilang nggak apa-apa, mereka aman.

Terus pas gue sudah lebih tenang, mbaknya ini pergi meninggalkan gue sama temen-temen gue. Ya sudah kita bercanda-bercanda biar suasananya lebih menyenangkan.

Tapi nggak lama kemudian gue lihat satu persatu temen gue yang kesurupan di aula dipindahkain ke gedung ini. Ternyata eh ternyata, omongan gue bener. Semakin dibacakan doa malah makin ganas.

Katanya, anak-anak yang baca Al Qur'an di dekat ATM mulai tumbang. Ada yang kesurupan, ada pula yang pingsan setelah melihat penampakan. Jujur gue juga bingung. Mereka sebenarnya apa sih sampai doa aja nggak mempan.

Salah satu temen gue yang punya asma, dia ini sebelumnya memang kesurupan ditambah lagi ada asma. Gue bantuin dia supaya setannya keluar dan berhasil. Eh pas dia dituntun masuk ke gedung kan melewati gue. Dia melihat gue  dengan sinis banget. Gue tahu itu bukan dia.

Gue pura-pura nggak tahu aja kalau temen gue ini masih kerasukan. Setelah dia dan beberapa orang dibawa ke suatu ruangan, nggak lama gue sama temen-temen juga disuruh masuk ke sana.

Hal yang paling gue benci saat itu adalah jendela yang ada dimana-mana. Rasanya mau gue kutuk arsiteknya.

Temen gue yang punya asma ini sudah tidur, ada guru yang menemani kita. Gue memilih tidur di yang paling pojok. Gue sempat bertanya kabar temen gue di aula sama guru ini dan dia bilang nggak apa-apa, gue nggak perlu mikir dan dia menyuruh gue istirahat.

Berhubung sudah ngantuk, gue nurut. Gue tidur juga sebenarnya gelisah, nggak nyenyak. Bagaimana lagi, di dalam tubuh gue ada banyak setan yang rebutan masuk tapi tertahan.

Kalau kalian tanya bagaimana cara menahannya? Jujur gue juga nggak tahu, yang waktu itu gue pikir hanyalah gue nggak mau dikuasai mereka doang.

Paginya gue terbangun. Badan terasa pegal semua dan sakit. Tapi gue bersyukur karena gue masih hidup dan nggak mati setelah apa yang terjadi semalam. Tapi itu benar-benar bikin gue lemah banget.

Gue sama yang lain balik ke tempat kemah. Gue mencari sepatu yang hilang entah kemana. Kaos kaki, tas, semuanya menghilang. Pokoknya kegiatan pagi itu kembali kayak biasanya. Padahal tadi malam kita berjuang dari kesurupan massal.

Gue sebetulnya agak marah sama panitia, sudah tahu ada kejadian seperti itu malah diteruskan. Gue mengomel terus dalam hati karena tahu ini tempat sudah benar-benar nggak aman.

Menjelang siang, kemarahan gue memuncak. Demi Tuhan gue kesel banget. Entah gue yang memang sudah badmood atau panitianya nggak mau rugi. Karena kseurupan semalam dan ketakutan setengah mati, jurit malam yang seharusnya dilakukan kemarin diganti jadi siang hari.

Memangnya setan cuma muncul di malam hari? Tidak! Semua sudah diperingatkan sama 'penunggu' tempat ini dan masih berpikir bakal aman?

Sebelum pada pergi jurit siang itu gue diajak ngobrol sama 2 orang teman tenda gue. Di sinilah gue akhirnya tahu salah satu alasan kenapa semalam kita kayak diamuk ramai-ramai sama 'penugngu' tempat ini.

Dua orang ini rupanya melanggar aturan, mereka mandi di kamar mandi dekat danau.

Pembelaan mereka, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Tadinya mereka nggak mau mandi di sana. Tapi gara-gara penuh dan ada bapak-bapak yang menyuruh mandi di dekat kamar mandi danau aja, ya sudah mereka menurut dan melupakan aturan yang sudah dikasih tahu kakak osis sebelumnya.

Setelah cerita, mereka bertanya ke gue, "Nanti gue disamperin nggak ya Cha? Gue takut nih"

Ya gimana gue sudah kepalang keki, gue takut-takutin aja, "Disamperin paling sama kuntilanak".

Pas denger celetukan gue, mereka berdua otomatis pada teriak amit-amit sambil ketakutan. Gue cuek aja, salah sendiri sudah dikasih tahu malah dilanggar. Dikira yang kena akibatnya situ doang apa?

Kelar membereskan barang dan mendengarkan cerita mereka, kita disuruh kumpul di depan tenda. Kakak OSIS memberi tahu anak-anak yang sakit dan semalam habis kesurupan dilarang ikut. Gue ditarik keluar barisan sama temen gue buat menunggu di tenda, padahal gue nggak mau.

Minat gue untuk merasakan jurit siang (malem) sudah hilang. Gue bersikeras nggak mau di tenda itu karena gue mikir anggota kelompok gue. Gue kan ketua, mereka juga pada takut dan bilang ke gue supaya gue nemenin mereka. Tapi guru-guru, kakak OSIS, dan temen deket gue maksa gue nggak boleh pergi.

Ya sudahlah gue juga masih sakit. Anak kelompok gue juga sudah bilang nggak apa-apa gue ninggalin mereka. Akhirnya gue diem di tenda. Yang lainnya satu persatu jalan sesuai rute yang sudah diberikan.

Di tenda ada beberapa anak lainnya, gue sama mereka makan-makan sambil cerita ini itu bareng guru juga. Nah hasil dari ngobrol abreng mereka, gue dapat informasi lagi. Ternyata semalam ada kelompok anak laki-laki di tenda paling ujung yang mainan jelangkung.

Ya ampun kesel banget gua, sumpah. Ini anak cowok otaknya pada kemana coba? Sudah tahu lagi di tempat seperti ini malah main jelangkung, bego.

Katanya nggak lama setelah anak-anak cowok ini main jelangkung, angin langsung bertiaup kencang dan muncul bayangan raksasa di belakang tenda mereka.

Kelompok anak-anak cowok ini bersebelahan sama temen gue yang semalam jerit-jerit itu. Makanya dia kesurupan paling pertama, dia kemasukan pas masih di tempat.

Disitu gue nggak lihat si pin bowling lagi. Cahaya merah juga nggak ada. Gue cuma fokus ke danau dan outbond soalnya disitu tuh banyak banget.

Guru-guru gue mengajak ngobrol tentang kejadian semalam. Mereka bertanya keadaan gue gimana, gue bilang sudah mendingan.

Waktu gue lagi makan mie instan sama yang lain, tiba-tiba guru yang cowok dapat telpon disuruh bawa motor ke salah satu rute jurit. Katanya ada yang kesurupan. Yang lain heboh, cuma gue yang biasa aja karena memang sudah tahu pasti bakal begini.

Awalnya sih gue cuek. Yang dibawa pulang sama guru gue lumayan banyak. Akhirnya gue lihat dan dengar kalau temen kelompok gue yang tadi cerita kalau dia melanggar aturan ini kesurupan terus pingsan, dia dibawa ke tenda 1 buat istirahat.

Temen gue yang bareng dia cerita, pas lagi jalan mereka ketemu kuntilanak beneran. Dikira mereka itu halusinasi gara-gara teringat omongan gue sebelumnya. Eehh, nggak tahunya si kuntilanak terbang mendekati mereka tapi yang kena cuma 1 orang.

Selama siang hari itu cuma dihabiskan untuk mendengerkan cerita dari anak-anak yang ikut jurit. Ada yang ditampakkan pocong, ada yang bertemu kuntilanak, ada yang kesurupan, ada yang pingsan, ada yang nangis, dan lain sebagainya.

Sore harinya gue mau mandi tapi karena penuh gue gosok gigi dulu di tempat wudhu. Disitu gue denger omongan anak laki yang lagi mandi bareng. Ngomongnya nggak dijaga sumpah gedeg banget gua. Mana ada celana dalam mereka di atas pintu, rasanya mau gue buang biar mereka bingung gak ada daleman.

Selesai gosok gigi gue antri sama yang lain buat mandi. Di bilik pertama ada kakak kelas gue, dia ketakutan ketakutan setengah mati danbilang kalau di dalem ada ular lumayan gede tapi pas disiram malah hilang.

Ya Tuhan padahal gue mau mandi jadi takut. Gue Berpikir lagi telanjang eh muncul penampakan, macam mandi bareng setan dong namanya.

Tapi karena gue gak mau bau apalagi waktu itu gue lagi deketin cowok, si doi perhatian banget. Nggak mau pisah dari gue semenjak tahu kalau gue sakit jadi makin nempel gitu. Jadi ya gue beranikan diri mandi sendiri. Itu juga gue mandinya sambil pakai ancang-ancang takut kalau tiba-tiba ada penampakan di depan mata.

Habis mandi badan terasa segar. Gue jalan-jalan keliling danau ramai-ramai. Iya, gue memang anaknya nekat. Sudah tahu jadi 'incaran' malah berwisata ke tempat mereka.

Sewaktu jalan-jalan pun temen-temen gue agak waswas sebenarnya, tapi gue sengaja nekat untuk cari tahu siapa aja yang marah karena keberadaan kita ini. Cuma yang gue dapatkan hanyalah hembusan angin yang dingin.

Oh iya salah satu temen gue ada yang bisa lihat juga. Dia ngomong ke gue kalau apa yang gue katakan bener. Di ATM itu mereka pada 'ngumpul'. Dia juga cerita juga apa yang terjadi di aula setelah gue pergi. Katanya pas malem yang cowok digangguin terus ada yang lewat dan nangis gitu.

Malam harinya ada acara api unggun. Kita berbaris lagi. Tadinya gue disuruh tetap di tenda aja bareng yang lain tapi gue maksa nggak mau. Gue bilang gue sudah nggak apa-apa jadi ya sudah guru-guru nurut tapi gue dijaga sama banyak orang. Tapi tetap aja gue barisnya paling belakang.

Gue orangnya keras kepala banget, soalnya gue ketua kelompok. Buat gue kalau sudah dikasih tanggung jawab ya mau dalam keadaan apapun juga gue tetap harus jagain anggota gue. Jadilah meskipun gue tadinya gak boleh di belakang, gue tetap ngotot di belakang buat jaga-jaga.

Untungnya temen-temen gue ngajak bercanda. Hanya saja yang mereka candain ini nggak cocok situasinya. Mereka malah mengolok-olok gue yang kemarin kesurupan kayak orang sekarat tapi nyatanya sekarang baik-baik aja.

Keusilan gue kumat lagi, gue bilang "Entar juga kalau lo lihat, lo kesurupan atau pingsan". Temen gue pada takut. Mereka bilang cuma bercanda aja terus diem deh nggak berani ngomong lagi.

Pas acara dimulai, jujur sih gue merinding. Kalau di sini ada anak pramuka atau pernah camping kayak gue gini pasti tahu tradisi api unggun yang ada bacaan-bacaannya itu.

Jadi kakak kelas gue yang cowok tangannya dibentuk seolah dia megang semaphore; tongkat gede yang atasnya ada bendera; tapi karena gak ada jadi dianggap aja lagi megang padahal nggak.

Di situ dia kayak muter gitu, keliling lapangan yang sudah dibentuk sama barisan anak-anak. Nah, gue perhatikan kok ada yang beda. Suasanya terasa mencekam banget.

Gue maju ke depan, gue lihat ada penari jawa mengikuti di belakang kakak kelas cowok itu 2 orang. Gue menelan ludah saking kagetnya, gua langsung mundur. Di situ gue langsung buang muka ke deretan mobil yang diparkir deket tenda.

Tapi pohon di tempat parkir mobil kok ada yang aneh. Seperti ada yang menggelayutin rambut panjang tapi posisinya terbalik. Jadi kakinya di atas, kepalanya di bawah.

Oke, gue akui gue memang bodoh. Tapi sumpah karena gue penasaran itu setan apa bukan, gue pelototin terus gue meletin. Eeh, dia ngebales gue, rasanya gue jantungan di tempat.

Temen gue yang di samping kayaknya sadar sama gelagat gue, jadi dia nepuk gue. Dia ngasih tahu gue biar nggak lihat ke sana, gue jawab iya.

Tapi gimana ya, gue sudah dendam banget gara-gara kaumnya semalam membuat gue jadi kesurupan. Buat gue kerasukan itu nggak elit banget. Mana ada cowok gebetan gue disana. Runtuh sudah citraku.

Bukannya ngajak temen ngobrol biar nggak sepi, gue malah ngajak berantem ini setan. Dia masih melet-meletin lidahnya yang panjang.

Gue kesel banget, gue acungin jari tengah dan bilang "Ape lo setan?"
"Sini lu kalau berani, gak usah melet-melet kayak anjing lu"
"Apa lu lihat-lihat? Sini maju"
"Gue sumpahin nggak bisa balik lagi itu kepala biar jalannya ngesot terus muka lu rata"

Iya, gue ngomong begini biar rasa takut berkurang karena si pin bowling sudah muncul lagi.

Eeh nggak lama temen gue yang tadi ngeledekin gue pingsan, terus di depan juga banyak yang pingsan. Ok, gue nganggep kalau mereka pingsan gara-gara gue. Gue usil soalnya dan malah ngajak ribut setan.

Selesai acara ini dilanjutkan dengan acara tukar kado. Gue nggak ikutan. Gue lemes dan gue takut sebenarnya gara-gara di outbond banyak yang ngajak main. Belum lagi tadi gue habis ribut sama setan yang kepalanya di bawah. Ditambah gue lihat si pin bowling yang masih memperhatikan gue.

Jadi gue ke posko guru bareng anak-anak yang pingsan tadi dan yang memang nggak ikut acara api unggun dari awal. Temen gue yang tadi ngeledek dan yang lainnya pas sudah sadar mereka cerita katanya lihat kuntilanak. Iya, itu kuntilanak yang gue ajak ribut. Si kunti kepala jungkir balik.

Mereka minta maaf karena sudah meledek gue. Gue bilang nggak apa-apa, cuma lain kali hati-hati jangan bercandain orang yang kena musibah. Sudah tahu gue baru aja dapat hal buruk malah dibikin sakit hati dengan omongan mereka.

Ternyata pas acara tukar kado pun banyak yang tumbang. Panitia mempercepat acara agar semuanya bisa istirahat. Di situ gue sempat mendengar soal pintu di atas aula kemarin dari guru dan temen-temen.

Gue nggak tahu ini benar atau nggak, gue hanya mendengar dari mereka aja. Katanya di atas aula itu ada satu ruangan yang terkunci, nggak boleh dibuka sama sekali. Tapi semalam nggak tahu kenapa malah terbuka padahal nggak ada orang yang naik ke sana.

Makanya pengelola tempat tersebut panik, apalagi setelah mendengarkan cerita gue kemarin.

Karena semua acara sudah selesai, kita diperkenankan istirahat. Jujur gue nggak bisa tidur sama sekali karena di tenda gue penuh sama anak-anak kelompok lain yang kesurupan. Mereka maunya satu tenda sama gue. Dikira gue penyaring setan kali ya biar mereka nggak kerasukan lagi.

Padahal gue sendiri juga lagi berusaha ngeluarin satu per satu setan yang masih nempel di badan. Tapi ya sudahlah, nggak apa-apa. Gue juga nggak tega kalau mereka diganggu lagi.

Karena sempit, gue tidur di paling depan deket pintu masuk tenda. Gara-gara semalam tendanya kena angin jadi sedikit keangkat gitu jadi gue bisa lihat di luar ada apa.

Sekitar satu jam kemudian, karena nggak bisa tidur gue mandangin rumput sambil mikirin kejadian semalam.

Mendadak gue denger suara geraman seseorang, gue kaget. Mana di tenda cuma gue doang yang masih melek. Gue mengintip dari bawah tenda. Di posko guru ramai banget orang, tapi gue nggak bisa lihat siapa yang menggeram. Gue cuma mendengar suaranya.

Org ini menggeram terus. Dia lalu ditanya sama bapak-bapak yang entah siapa karena nggak kelihatan. Ditanya namanya siapa, asalnya darimana, dan seterusnya. Gue nggak bisa menangkap pembicaraan lebih jelas karena dia ngomongnya kayak orang kumur-kumur. Nggak jelas, mana cepet dibarengi sama geraman pula.

Tapi, gue berhasil denger suara dia pas ditanyain "Apa maumu? Keluar dari tubuh anak ini!"
"Nggak, saya nggak mau! Kalau kalian mau semuanya selamat kasih saya satu tumbal."

Ya gue nggak tahu apa-apalagi karena pas denger kata-kata itu gue langsung merem dan nangis manggilin emak bapak.

Paginya pas lagi beres-beres, anak-anak tenda sebelah pada ngomongin masalah semalam. Ternyata yang denger nggak gue doang, tapi yang lain juga denger. Bahkan sampai ke tenda ujung, terutama soal dia minta tumbal. Katanya kakak itu kesurupan gara-gara bengong dan malah nyamperin danau gitu.

Dia kerasukan penunggu danau. Mereka marah sama kita yang dianggapnya nggak sopan, makanya mereka ngamuk dan minta tumbal 1 orang buat menyelamatkan semuanya. Tapi guru-guru nggak mau, kebetulan semalam ada ustadz juga ternyata.

Gue nggak tahu bagaimana caranya si penunggunya bisa keluar dari tubuh si kakak tapi yang pasti kita langsung cepat-cepat berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Kalau kalian tanya kenapa si penunggu danau bisa dikeluarkan sementara gue nggak bisa malah ustadznya nyerah, itu juga yang jadi pertanyaan gue. Yang gue pahami kenapa si ustadz bilang begitu karena yang nempel di badan gue banyak. Energinya juga bercampur dari yang kecil sampai besar, sementara si kakak cuma 1.

Salah sedikit aja ustadz mengeluarkan setan di tubuh gue, yang ada malah dia bikin roh gue ikut ketarik. Jadi ya dia juga bingung harus berbuat apa. Makanya pas itu gue disaranin dibawa ke tempat yang lebih aman dulu. Tapi memang gue akui walau serem gedung yang kemarin aman.

Pas pulang ke rumah, orang tua gue sudah tahu ceritanya. orang tua gue kan nggak percaya hal mistis kayak gitu. Gue malah ditertawakan, katanya kebanyakan nonton film horor.

Anak-anak dikasih waktu istirahat dari sekolah. Selama itu pula gue di rumah sholat dan berdoa nggak putus-putus. Gue nggak tahu lagi bagaimana caranya supaya setannya keluar dari tubuh gue. Apalagi si pin bowling masih juga mengikuti gue.

Saat masuk sekolah, hari pertama itu banyak yang kesurupan dan pingsan, termasuk gue. Iya, gue.

Gue ngerasain lagi sesak napas yang benar-benar sakit. Badan terasa lemas, pusing, muka gue pucat banget sampai anak sekelas pada khawatir. Akhirnya karena gue kelihatan makin pucat, bokap ditelpon. Pulanglah gue ke rumah.

Selama sebulan itu sekolah gue siswanya jadi langganan kesurupan dan pingsan. Gak ada hari tanpa hal mistis. Dan selama itu pula gue yang tadinya sehat wal afiat mendadak jadi kayak orang punya penyakit kronis.

Karena khawatir melihat gue yang seperti itu, orang tua gue membawa gue periksa ke dokter. Awalnya ke puskesmas, tapi mereka merujuk ke RSUD. Waktu di RSUD gue dirontgen segala macam, hasilnya nggak ada apa-apa. Tapi pas dites darah, gue kena asam urat. Gue diketawain lagi sama orang tua gue.

Karena nggak sembuh-sembuh, gue dibawa ke dokter-dokter lainnya. Segala dokter dan pengobatan sudah dilakukan. Diagnosisnya malah ngaco semua, nggak ada yang sinkron. Malah pernah dalam 1 pemeriksaan gue dinyatakan mengidap jantung dan ginjal. Ebuset ngeborong.

Tapi yang paling parah itu waktu gue divonis kalau hidup gue nggak lama lagi. Ya Allah sumpah gue nangis jejeritan karena nggak percaya aja. Gue sehat kok, tapi kenapa gini? Gue sudah stres banget harus rutin minum obat, check up, dan terancam harus mengikuti sesi kemoterapi.

Kebetulan gue takut dioperasi, jadi gue hanya bertahan sama obat-obatan selama beberapa bulan. Temen-temen gue tahu kalau gue penyakitan, tapi mereka tetap support. Gue terus berdoa sama Allah karena gue nggak percaya sakit begini. Semua obat gue buang, gue marah sama setan-setan itu.

Kenapa gue marah? Karena gue tahu sakitnya dipermainkan. Nggak mungkin dalam satu tubuh gue bisa mengidap 7 penyakit mematikan sekaligus, yang bener aja! Orang lain mengoleksi mantan, gue kok ngoleksi penyakit.

Tanpa ngasih tahu orang tua, gue berjuang sendirian. Temen-temen yang nggak percaya sama sakit gue juga ngasih dukungan penuh. Mereka tahu gue ini masih bukan 'gue', jadi setiap hari gue rutin sholat dan mengaji. Sedikit-sedikit gue juga mulai berani melawan si pin bowling.

Sebenernya dibilang melawan nggak juga sih karena si pin bowling nggak ngapa-ngapain. Gue juga bingung apa fungsinya dia. Dia ngikutin gue doang, memperhatikan tapi nggak pernah menyentuh gue. Aneh sih, tapi ya gue takut aja karena dia wujudnya aneh dan tinggi banget kayak rumah mewah.

Akhirnya selama kurang lebih 6 bulan gue berjuang, gue berhasil mengeluarkan mereka satu persatu. Gue lega. Bener-bener lega. Gue cek sekali lagi ke dokter buat buktikan dan benar saja hasilnya semua kesehatan gue itu berbanding terbalik sama hasil yang waktu gue masih ditempelin.

Badan gue jadi enteng dan gue kembali sehat lagi. Cuma imbasnya gara-gara ini gue jadi kena cemoohan sih. Gue dianggap cari perhatian karena sebelumnya bilang divonis mati. Padahal gue nggak ngomong ke mereka, merekanya aja biang gosip.

Tapi ya gue diemin aja karena gue males ribut. yang penting gue sudah balik aja sudah cukup.

Karena semua hal yang sudah gue lewatin ini juga sekarang fisik gue jadi lemah. Yang tadinya sanggup dingin, sekarang dingin sedikit gue bisa sakit. Kena hujan dulu mah masih bugar. sekarang kena sedikit langsung sakit. Pokoknya gue jadi gampang sakit gitu.

Baiklah, thread ini selesai! Part 2 memang nggak serem sih. Tapi gue cuma pengen bilang ke kalian bahwa di dunia ini kita nggak hidup sendirian. Ada banyak makhluk tak kasat mata yang hadir menemani kita entah itu di samping, depan, belakang atau yang kini lagi kamu gendong di punggung.

Lalu ingat, bahwa derajat kalian itu lebih tinggi dari mereka! Kalian punya Tuhan dan agama jadi jangan pernah putuskan komunikasi kalian kepada-Nya. Apapun yang sedang kalian hadapi Tuhan nggak pernah pergi, cukup ikuti hati dan percayai apa yang kamu yakini dengan sungguh-sunguh.

Gue nggak membual kalau kekuatan doa itu memang semujarab itu. Lebih ampuh dari obat apapun di dunia ini. Lebih hebat dari serangkaian terapi yang kamu lakukan ke dokter.

Sampai sekarang kalau diingat-ingat lagi gue suka nangis. Ya Allah nggak nyangka gue harus melewati semuanya dengan penuh perjuangan.

Dari kejadian itu gue ambil hikmahnya, kalau Tuhan itu benar-benar sayang sama gue. Seandainya orang lain yang ada diposisi gue mungkin mereka sudah nyerah duluan, tapi nggak buat gue. Gue yang keras kepala dan teguh pendirian memilih bertahan dan melawan mereka semua meskipun prosesnya panjang dan menyakitkan.

Gue juga bersyukur sebab karena itu gue jadi introspeksi diri. Kalian tahu nggak kalau setan itu suka menempel pada orang yang punya aura gelap dan negatif? Kebetulan gue waktu itu kan lagi depresi gara-gara kehilangan orang yang gue sayang buat selamanya, ditambah lagi gue bisa melihat mereka.

Jadilah setan itu semakin demen karena dianggap gue lemah. Padahal meskipun mental gue lagi lemah bukan berarti gue bisa izinkan mereka mengambil alih tubuh gue.

Dari situ gue benar-benar belajar buat jadi orang yang lebih positif, kunci gue adalah memaafkan dan menerima masa lalu. Gue dulu dipenuhi dendam dan kebencian. Depresi yang gue idap itu sudah tahap kritis karena keinginan bunuh diri gue tinggi. Beberapa kali gue mencoba bunuh diri tapi selalu berakhir selamat.

Setelah semua yang gue lalui, gue sadar bahwa apa yang gue lakukan itu salah. Coba kalau gue dulu berhasil bunuh diri, pasti gue jadi salah satu bagian dari mereka karena arwah gentayangan itu arwah yang penuh dendam dan kebencian di hatinya.

Secara nggak langsung Allah memberi gue teguran, tamparan keras, melalui para makhluk ini. Meskipun mereka rebutan masuk tapi gue bisa menahan semuanya dengan kekuatan yang entah gue sendiri nggak tahu darimana dan bagaimana caranya. Yang gue tahu adalah Allah Maha Baik.

Gue juga berterima kasih karena berkat setan-setan ini gue jadi bisa tahu mana kawan mana lawan. Dan gue juga sangat-sangat bersyukur karena gue bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setelah kejadian itu. Gue lebih menghargai kehidupan, makna dan memperbaiki apa aja yang selama ini salah.

Sekian threadku kali ini, semoga pesan yang kusampaikan bisa ditangkap dengan baik dan jelas! Sampai jumpa.

Demikian cerita horor nyata yang menceritakan pengalaman si penulis saat berkemah di Bumi Perkemahan Mekarsari. Segala tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan; baik nama tempat, pemerintah daerah, pengelola, maupun sisi personal setiap orang yang terlibat di dalamnya. Tapi lebih kepada hikmah yang ada di baliknya.

Setiap tempat apalagi yang masih alami adalah tempat bersemayam para makhluk halus yang hidup berdampingan dengan kita. Kita tidak bisa secara langsung melihat mereka karena mereka berada di dimensi yang berbeda, kecuali bagi mereka yang memiliki kelebihan melihat alam gaib tentunya.

Sudah sepantasnya kita sebagai manusia yang memiliki derajat lebih tinggi dari mereka untuk tetap menghormati, menghargai, dan meminta izin setiap bertandang ke suatu tempat yang diyakini masih asri dan alami. Tidak lain karena kita akan masuk ke wilayah kekuasaan mereka, masuk ke daerah tempat tinggal mereka. Dan tentu ini membutuhkan tata krama selayaknya seorang tamu yang sedang berkunjung.

Semoga kisah nyata yang seram kali ini bisa memberikan pandangan yang lebih luas kepada anda mengenai misteri dunia gaib. Bisa menginspirasi anda untuk semakin bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salam Rahayu.

Gambar ilustrasi:
malesmandi.com

Baca Juga Artikel :