Skip to main content
Pada artikel kali ini kami akan membagikan tulisan berjudul 5 Keris Pusaka Legendaris di Indonesia. Keris-keris ini menjadi sangat terkenal karena sejarahnya, asal-usulnya, atau dari cerita rakyat yang banyak beredar di tanah air.

Beberapa dari anda mungkin menyangsikan atau merasa aneh karena keris-keris yang ditampilkan sedikit berbeda dari yang banyak beredar di internet. Tapi anda tak perlu khawatir, kami menjamin ke-orisinal-an tulisan dan kesaktian keris-keris yang dimaksud dalam tulisan ini. Selamat membaca.

1. Keris Empu Gandring


Keris Empu Gandring adalah keris legendaris paling terkenal di Indonesia. Keris yang disebut-sebut sebagai keris paling paling sakti ini telah menghilang dan tak pernah diketahui keberadaannya lagi.

Keris Empu Gandring menjadi sangat terkenal setelah dibuat film keris empu gandring. Keris Empu Gandring terkenal akan kutukannya yang membuat siapa saja pemiliknya akan menjadi tumbal atau korban.

Keris Empu Gandring dibuat oleh seorang ahli keris bernama Empu Gandring atas pesanan dari Ken Arok dari kerajaan Singosari. Saat itu Ken Arok memesan keris kepada Empu Gandring dengan waktu hanya satu malam, dimana hal tersebut merupakan pekerjaan yang mustahil dilakukan oleh para "ahli keris" pada masa itu.

Akan tetapi permintaan Ken Arok disanggupi oleh Empu Gandring. Empu Gandring adalah seorang yang waskita, memiliki kekuatan dan ilmu gaib yang sangat luar biasa. Bahkan kekuatannya itu dimasukkan ke dalam keris buatannya untuk menambah kesaktian keris tersebut.

Dengan kesaktian yang dimiliki Empu Gandring, bilah keris itupun rampung hanya dalam 1 malam saja. Konon bentuk dan wujudnya sangat sempurna dan sangat indah dan memiliki kesaktian yang sangat luar biasa.

Sebagai tahap akhir, Empu Gandring lalu melanjutkan pekerjaannya dengan membuat gagang dan sarung kerisnya. Akan tetapi, belum sempat gagang dan sarung tersebut selesai dikerjakan, Ken Arok datang untuk mengambil keris tersebut.

Ken Arok menginginkan agar keris tersebut diserahkan kepadanya karena sudah lewat 1 hari dari waktu yang ditentukan. Empu Gandring menolak permintaan Ken Arok karena menurutnya keris tersebut belumlah sempurna tanpa gagang dan sarungnya.

Ken Arok yang merasa terhina kemudian merasa sangat marah dan gelap mata. Ken Arok mengambil bilah keris yang belum memiliki gagang dan srung itu lantas menghujamkannya ke tubuh Empu Gandring yang dianggapnya tak menepati janji.

Ken Arok meninggalkan Empu Gandring dalam keadaan sekarat bersimbah darah. Merasa kecewa dan marah atas segala tindakan Ken Arok, Empu Gandring mengeluarkan kutukan siapa saja pemilik keris tersebut akan meminta korban nyawa yakni tujuh keturunan dari Ken Arok. Empu Gandring pun akhirnya mati mengenaskan.

Dan dalam waktu-waktu selanjutnya, Keris Empu Gandring ini menimbulkan banyak malapetaka dan bencana bagi Ken Arok dan Kerajaan Singosari. Ken Arok tewas dalam sebuah peperangan, begitupun dengan keturunannya yakni Anusapati, Tunggul Ametung, dan keturunan-keturunan berikutnya.

Sejak itu keris ini menghilang dari sejarah dan hingga kini keris mpu gandring tak pernah ditemukan. Beberapa ahli spiritual percaya keris ini disembunyikan secara gaib agar tidak lagi dimiliki manusia karena kekuatannya yang sangat luar biasa. Sebagian lagi meyakini keris ini masih ada dan disimpan oleh anak-cucu keturunan Ken Arok berikutnya.

2. Keris Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat


Keris sakti ini dibuat oleh Empu Jaka Sura, putra Empu Pangeran Sedayu. Saat mengetahui ayahnya diangkat menajdi pangeran, Jaka Sura berangkat ke Sedayu ditemani Empu Salahita. Disana Empu Salahita membawa Jaka Sura ke besalen dan dikenalkan kepada Empu Ki Jebat.

Saat itu Empi Ki Jebat bercerita bahwa pangeran sedang gundah karena mendapat perintah raja untuk membuat dapur keris baru andalan Majapahit. Jaka Sura lalu mengeluarkan sisa besi keris dan membakarnya di parapen.

Besi itu ditempanya tanpa lelah hingga menjadi keris baru yang sangat indah. Semua orang kagum. Pangeran Sedayu yang mendatangi besalen kagum dan gembira pada keris buatan Jaka Sura.

Keris itu lalu dibawanya ke hadapan raja. Sang raja kemudian memberinya nama, 'Sengkelat'. Nama Sengkelat berasal dari kata 'sengkel' yang artinya bingung kehabisan akal.

Demikianlah keris Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat menjadi pusaka andalan kerajaan Majapahit. Saat kerajaan Majapahit runtuh, keris ini berpindah-pindah kepemilikan dari kerajaan Demak, kerajaan Pajang, hingga Kerajaan Mataram.

Pada perjanjian Giyanti, pangeran Mangkubumi memberontak terhadap kekuasaan Paku Buwono III sehingga mendirikan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pihak Kasunanan Surakarta akhirnya mewarisi pusaka berwujud keris yakni Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat, dan keraton Kasultanan Yogyakarta mewarisi tombak pusaka Kanjeng Kyai Ageng Pleret.

3. Keris Kanjeng Kyai Condong Campur


Keris ini adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit dan sering diceritakan dalam legenda. Pusaka ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Keris Kyai Condong Campur diyakini merupakan keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan, sogokan belakang tidak ada.

Konon Keris Kanjeng Kyai Condong Campur dibuat oleh seratus orang Empu dan bahan bakunya diambil dari 100 tempat yang berbeda di kerajaan Majapahit. Setelah selesai dibuat, keris ini menjadi pusaka yang sangat ampuh dan sakti, tapi wataknya jahat dan membawa malapetaka bagi rakyat Majapahit.

Dalam cerita rakyat disebutkan, bila malam tiba dan bulan tak muncul di angkasa, keris pusaka Condong Campur akan keluar sendiri dari sarungnya dan melesat ke angkasa untuk mencari mangsa berupa darah manusia. Akibatnya, wabah penyakit merajalela dan terjadi pertumpahan darah di seluruh negeri.

Seratus orang Empu yang membuatnya kemudian diperintahkan Raja Majaphit untuk menangkap Keris Kanjeng Kyai Condong Campur. Dengan kesaktian mereka, keris itu berhasil ditangkap kembali. Keris itu kemudian dimasukkan ke dalam lesung penumbuk padi dengan maksud untuk dihancurkan beramai-ramai.

Namun sebelum terlaksana, Keris Pusaka Condong Campur itu tiba-tiba melesat ke langit dan berubah wujud menjadi Lintang Kemukus (meteor). Konon sejak itu muncul kutukan bahwa Lintang Kemukus akan kembali setiap 500 tahun sekali untuk membuat huru hara di tanah Jawa.

4. Keris Kyai Setan Kober


Keris pusaka Kyai Setan Kober ini adalah keris milik Arya Penangsang. Keris sakti ini dipakai oleh Arya Penangsang ketika ia melakukan perang tanding melawan Danang Sutawijaya dari kerajaan Pajang.

Sewaktu perang tanding, tombak Kanjeng Kyai Ageng Pleret yang dipakai Sutawijaya berhasil mengenai lambung Arya Penangsang sampai ususnya terburai keluar dari perutnya.

Menolak kalah begitu saja, dengan sigap Arya Penangsang mengaitkan buraian ususnya pada hulu keris yang terselip di pinggang sembari terus bertempur.

Saat Sutawijaya terdesak, Arya Penangsang menindihnya dan menghunuskan Keris Kyai Setan Kober ke tubuhnya. Malang, keris itu malah tak sengaja memotong ususnya sendiri. Arya Penangsang pun tewas seketika.

Sutawijaya yang sangat terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia kemudian memerintahkan pada anak-cucunya agar saat mereka menikah kelak meniru Arya Penangsang.

Untaian bung amelati yang menyerupai usus disangkutkan pada hulu keris pengantin. Dengan begitu pengantin pria akan tampak lebih gagah dan berwibawa. Tradisi mengaitkan rangkaian melati pada keris ini hingga sekarang masih digunakan dalam adat pernikahan Jawa.

5. Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek


Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek adalah salah satu keris pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta yang dianggap sebagai keris utama. Keris ini dibuat oleh Empu Supa Anom pada zaman Sultan Agung Anyokrokusumo dan diberikan sebagai tanda mata dari Susuhunan Paku Buwono III.

Keris Kyai Ageng Kopek berdhapur jalak sangu tumpeng dengan pamor wos wutah. Warangka keris pusaka Yogyakarta ini terbuat dari kayu cendana wangi, pendhoknya dari berlian, dan bentuknya blewahan. Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dikenakan oleh Sri Sultan saat menghadiri upacara-upacara besar seperti penobatan atau menerima tamu agung.

Menurut sejarah, saat gubernur Hindia Belanda bernama Nicolas Haringh menyerahkan keris dari Susuhunan Paku Buwono III, ia menyampaikan pesan pada Pangeran Mangkubumi agar keris itu 'ko pek' (kamu ambil). Demikianlah nama itu akhirnya melekat pada keris itu sampai sekarang.

Sedangkan menurut cerita rakyat, Prabu Darmakusuma yang saat itu sedang bersedih karena tak kunjung diambil nyawanya meski sudah berusia ratusan tahun masih belum memahami apa yang terkandung dalam Pusaka Jamus Kalimasada.

Suatu hari sang Prabu berjumpa dengan Sunan Kalijaga, ia kemudian menceritakan keluh kesahnya. Menurut Sunan Kalijaga, jika Prabu Darmakusuma menghendaki ajal segera menjemput maka sang Prabu cukup membaca Jamus Kalimasada. Raja Amarta itu berkata, jika Sunan Kalijaga dapat mengajarkan dan membimbingnya agar dapat membaca Jamus Kalimasada, keris pusaka miliknya akan dihadiahkan sebagai warisan.

Saat itu sang Prabu berkata, "Keris pusaka iki mengko pek'en" (Keris pusaka ini nanti kamu ambil). Dan akhirnya Sunan Kalijaga mengajarkan kandungan Jamus Kalimasada yang tak lain berupa dua kalimat Syahadat. Beberapa saat kemudian, sang Prabu mangkat dengan tenang.

Sedangkan keris warisan Prabu Darmakusuma oleh Sunan Kalijaga diberi nama "Kyai Kopek". Keris itu lalu diberikan kepada Sultan Demak untuk dijadikan pusaka kerajaan. Kemudian berturut-turut menjadi pusaka kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, Kasunanan Surakarta, dan kemudian Kasultanan Yogyakarta.


Baca Juga Artikel :